Sanad Krapyak Goes to Muktamar NU 2026, Berangkat Bawa Kangen Barokah

Artikel

Admin

8/16/20262 min read

Sanadcare.Id - Ada yang bilang, perjalanan jauh itu melelahkan. Tapi kalau tujuannya untuk ngaji, silaturahmi, dan bertemu orang-orang yang dirindukan, ceritanya bisa beda.

Begitulah kira-kira semangat Sanad Krapyak Goes to Muktamar NU 2026.

Dari gambar yang beredar, rombongan alumni Sanad Krapyak digambarkan naik bus dengan wajah sumringah. Ada yang membawa koper, ada yang duduk santai, ada yang membawa bendera NU, bahkan ada yang bergaya dengan megafon. Satu pesan yang paling menonjol: “Yang penting guyub, bukan ribut.” Sederhana, tetapi dalam.

Sebab perjalanan menuju Muktamar NU bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain. Ada rasa rindu yang ikut dibawa. Rindu kepada guru, kawan seperjuangan, suasana pesantren, dan tentu saja rindu kepada keberkahan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan santri.

Ketua Umum Sanad Krapyak, Gus Idham Kholid, melihat momentum Muktamar NU sebagai kesempatan penting bagi alumni untuk kembali merawat hubungan yang mungkin selama ini jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Bagi alumni, katanya, sanad bukan hanya soal siapa pernah belajar kepada siapa. Sanad juga tentang bagaimana hubungan itu tetap dijaga setelah seseorang meninggalkan pesantren dan menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

“Sanad itu bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang menjaga hubungan, perjuangan, dan keberkahan,” demikian semangat yang terus dibawa dalam gerakan Sanad Krapyak.

Berangkat Bukan Karena Kaya, tapi Karena Kangen Barokah

Kalimat dalam ilustrasi Sanad Krapyak Goes to Muktamar mungkin terdengar sederhana: “Berangkat bukan karena kaya, tapi karena kangen barokah.” Namun, bagi santri, kalimat tersebut punya makna yang cukup dalam.

Tidak semua orang berangkat dengan fasilitas mewah. Tidak harus menginap di hotel mahal. Tidak perlu tampil glamor. Yang penting bisa sampai, bertemu, bersilaturahmi, dan mengikuti rangkaian kegiatan Muktamar dengan hati yang siap.

Inilah gaya khas santri: sederhana dalam perjalanan, ramai dalam persaudaraan. Bahkan ngopi pun punya makna. Dalam ilustrasi tersebut terdapat pesan jenaka, “Ojo lali ngopi, karena ngopi bagian dari istighfar.”

Namanya juga perjalanan santri. Ada ngopi, ada guyon, ada cerita, ada drama perjalanan. Tetapi semuanya menjadi bagian dari kenangan.

Dari Krapyak, Menuju Muktamar

Muktamar NU ke-35 akan menjadi salah satu momentum penting bagi warga Nahdliyin. Sanad Krapyak memilih hadir dengan cara mereka sendiri: membawa semangat alumni, tradisi pesantren, dan semangat rabithah.

Rombongan Sanad Krapyak dijadwalkan menuju Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, lokasi Muktamar NU 2026. Bagi Gen-Z, mungkin perjalanan seperti ini terasa seperti road trip. Bedanya, destinasi akhirnya bukan sekadar tempat wisata, tetapi sebuah momentum organisasi, keilmuan, spiritualitas, dan silaturahmi.

Di dalam bus mungkin akan ada playlist, obrolan random, tawa, foto-foto, sampai cerita perjalanan yang tidak masuk agenda resmi. Dan justru di situlah serunya.

Karena perjalanan jauh selalu punya cerita. Seperti pesan dalam ilustrasi: Perjalanan jauh itu biasa, yang penting hati tetap di jalan-Nya.”

Sanad Krapyak ingin memastikan bahwa perjalanan menuju Muktamar tidak berhenti pada kehadiran secara fisik. Ada nilai yang ingin dibawa pulang: persaudaraan yang semakin kuat, silaturahmi yang semakin erat, dan semangat untuk terus berkhidmah.

Pada akhirnya, Sanad Krapyak Goes to Muktamar NU 2026 bukan hanya tentang siapa yang berangkat dan kendaraan apa yang digunakan.

Ini tentang kangen.

Kangen bertemu.

Kangen ngaji.

Kangen sowan.

Kangen bercanda dengan teman lama.

Dan yang paling penting, kangen barokah.

Karena bagi santri, berangkat boleh sederhana. Tetapi niatnya jangan sederhana.

Berangkat tabarrukan, pulang membawa keberkahan.(*)