Mbah Kyai Ali dan Budaya Literasi

Mbah Kyai Ali (KH Ali Maksum) merupakan dari sedikit ulama yang berpikir progresif. Beliau sangat gemar membaca. Kitab yang dibaca tidak hanya kitab kuning yang biasa dikaji di pesantren tapi juga kitab putih.

KH Henry Sutopo

9/18/20262 min read

SANADCARE.ID - Sedang mau tugas ngajar di Madrasah lewat depan Ndalem Mbah Kyai Ali Maksum tiba2 saya dipanggil masuk kamar Beliau.

Setelah cium tangan saya matur ada dhawuh perintah apa yang harus saya jalankan...Beliau mengulurkan sebuah Kitab sambil menyuruh saya membaca halaman yang sudah Beliau buka tanpa sempat saya tahu judul itu Kitab apa...baru tiga baris saya baca Beliau menyuruh berhenti lantas ngendiko :

"Kitab Tauhid Fatkhul Majid kelas Satu Aliyah kamu ganti pakai Kitab ini saja...".

" : Nggih siap laksanakan!". jawab saya.

Saat di rumah Kitab itu saya buka ternyata berjudul Al Aqooid karangan Imam Asyahid Hasan Al Banna pendiri gerakan Ihwanul Muslimin di Mesir.

Setahu saya pemikiran Hasan Al Banna tidak sesuai dengan Ulama Aswaja karena dipengaruhi oleh Tokoh2 pergerakan seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Muhammad bin Abdul Wahhab yang bercirikan keras kaku radikal radikul walau berdasarkan Qur'an dan sunnah.

Pengaruh Ihwanul Muslimin pula yang memunculkan Kelompok Garis keras semisal Hammas di Palestina...kelompok paling berani melawan Zionis Israel yang melakukan genosida di Gaza dengan dukungan Amerika dan Dunia seakan mendiamkannya.

Kitab Al Aqooid memang tidak seperti Kitab2 Asy'ariyah Maturidiyyah yang biasa diajarkan di Pesantren NU berformat Matan Syarah tetapi langsung membahas Aqidah berdasar Qur'an hadits dan akal secara tekstual rigid kaku kayak Kanebo kering.

Bisa dikata Kitab Al Aqooid itu pendapat saya lebih cenderung ke faham Muktazilah yang mendewakan akal namun mudah difahami dan memicu Santri untuk berfikir maju tidak jumud mabni statis nylekuthis.

Timbul pertanyaan dalam benak saya kenapa Mbah Ali Maksum kok menyuruh memakai Kitab itu?...akhirnya saya jawab sendiri bahwa Mbah Ali Maksum adalah Ulama yang sangat terbuka, moderat luwes seraya mengajarkan Kaidah :

المحافظة على القديم الصالح... والأخذ بالجديد الأصلح

Menjaga nilai lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik... sebagai ciri khas ajaran NU.

Sayapun jadi teringat Beliau pernah memberi nasehat agar saya membaca Kitab2 yang tidak muktabar di kalangan Pesantren Aswaja sebagai muqobalah perbandingan untuk membuka cakrawala berfikir dan wawasan.

Kata kuncinya diharap Santri harus kaya Literasi istilah sekarang pikniknya yang jauh dari ngopinya yang kental agar kaya wawasan berfikir maju, terbuka, toleran tidak mbleguduk merasa paling pintar dan benar sendiri...alias JANGAN KEMLINTHI.

Lahu Al-Fatihah. Sabtu pagi 1 Nop 25 Haul ke 37 KH Ali Maksum.