Mbah Ali, Pesantren, dan Sepak Bola

Kisah KH Ali Maksum (Mbah Ali) tentang sepak bola. Tulisan ini pernah dipublish di https://almunawwir.com

Afrizal Qosim Qosim (Santri Huffadz Pondok Pesantren Al Munawwir)

6/16/20262 min read

Dunia pesantren itu bisa dibilang sebagai sub-kultur budaya yang super unik. Di satu sisi punya aturan yang kelihatan ketat dan ideologis, tapi di sisi lain selalu punya daya tarik yang khas.

Keunikan ini bukan cuma datang dari internal entitas yang ada di dalam aja, tapi juga dari cara mereka merespons tren luar. Menariknya, budaya luar yang masuk ke pesantren sama sekali gak merusak nilai-nilai di dalamnya, melainkan justru nge-blend jadi warna baru yang seru.

Contoh paling gampang: sepak bola. Olahraga yang udah mendunia ini emang punya magnet yang luar biasa buat siapa aja. Mau anak-anak, remaja, bapack-bapack, lansia, cowok, cewek, bahkan level Kiai pesantren pun banyak yang kena "demam" bola. Gimana gak, mereka bukan cuma hobi main, tapi juga hobi nonton pertandingannya.

Nah, salah satu ulama kharismatik yang juga menyukai bola adalah Allah Yarham Al-Maghfurlah KH Ali Maksum, menantu dari Allah Yarham Al-Maghfurlah KH. R. M. Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

Mbah Ali—sapaan akrab beliau—ternyata seorang fans berat timnas Argentina. Nah, di era itu, Argentina lagi jaya-jayanya karena dipimpin oleh sang legenda "Tangan Tuhan", Diego Armando Maradona.

Kefanatikan Mbah Ali sama Argentina ini gak main-main. Waktu momen Piala Dunia bergulir, beliau sengaja menempelkan jadwal pertandingan persis di jendela depan rumahnya. Kelakuan mager tapi niat dari sang Kiai ini jelas bikin para santri yang gak tahu apa-apa jadi heran. Alhasil, urusan jadwal bola di jendela Kiai ini langsung jadi trending topic di setiap obrolan kamar asrama.

"Kenapa ya Mbah Ali sampai majang jadwal Piala Dunia di depan rumah?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepala para santri. Berbagai teori konspirasi ala santri pun bermunculan.

"Mungkin Mbah Yai sengaja ngasih kode keras supaya kita gak nonton Piala Dunia. Soalnya kan jam tandingnya sering tabrakan sama jadwal kita ngaji," celetuk Salim sambil memegang rokok ting-we (nglinting dewe) di tangan kanannya.

Asap rokok langsung ngebul memenuhi kamar. Suasana mendadak hening, menyisakan kopi, asbak, dan kepulan asap dari rokok Salim yang mendominasi ruangan.

"Iya juga sih, bisa jadi. Kalau kita absen ngaji gara-gara ketahuan nonton bola, fiks langsung kena takzir (hukuman)! Pasti itu!" timpal Bejo. Dia baru ikutan nimbrung setelah kelar nyetrika baju pakai setrika arang, yang dia sewa dari lurah pondok seharga lima perak per pakaian.

Mendengar argumen Salim dan Bejo, anak-anak sekamar langsung diam dan manggut-manggut setuju. Mereka menerapkan prinsip ijma’ bissukuti—alias sepakat lewat jalur diam.

Tapi ternyata, plot twist-nya jauh dari ekspektasi mereka.

Malam itu, setelah jamaah magrib selesai, para santri langsung otw bareng-bareng ke rumah Kiai. Banyak yang telat karena sempat ketiduran di masjid. Efeknya, barisan sandal di depan kediaman Kiai saking rapi dan padatnya sampai kelihatan kayak tikar.

Alhasil, banyak santri yang terpaksa pasrah duduk di atas hamparan sandal-sandal itu karena area dalam rumah sudah full booked. Mereka sibuk nyari posisi duduk paling nyaman buat aset berharga mereka (pantat), secara pengajian Kiai biasanya long duration alias bisa sampai tengah malam.

Normalnya, Mbah Ali bakal mengupas sekitar 10 sampai 15 lembar kitab kuning gundul, yang kemudian disimak dan dicatat (bandongan) oleh para santri yang memegang kitab serupa.

Eh, di luar dugaan, baru sampai lembar kelima, Mbah Ali tiba-tiba bilang, "Wallahu a’lam bisshowab." Pengajian selesai! Para santri langsung merasa wagu (aneh). Mereka saling tatap dengan muka penuh tanda tanya. Kok tumben cepat banget?

Sambil santai menutup kitab, merapikan posisi duduk, dan meminum sedikit air yang udah disiapkan oleh Bu Nyai, Mbah Ali akhirnya buka suara sambil tersenyum lebar:

"Kang, sekarang Argentina lagi tanding. Aku nonton dulu ya. Nah, itu jadwal pertandingannya kan udah tak pasang. Jadi, kalau Argentina lagi main, tolong saya dimaklumi ya, Kang."

Mbah Ali pun terkekeh geli, yang langsung disambut tawa renyah dari para santri yang tadinya sempat kebingungan.(*)